June 21, 2007

Terima Kasih Aa Gym

Setiap kali ada masalah, setiap kali ada sesutu yang kurang enak di jalan atau dimanapun saya selalu terngiang kata-kata Aa Gym yang intinya “Kalau dengan ngomel, gerutu, marah2, ngambek itu akan membuat selesai masalah maka lakukan hal itu, tapi kalau tidak jangan, karena akan sia-saia dan membuang energi kita” . Nah kata-kata itu selalu terngiang dalam benak saya. Jadi ketika saya salah pilih jalan, lalu kena macet, saya hadapi saja dengan senang, toh kalau kita kesel juga tetep macet. Bagitulah juga dalam pekerjaan, ketika saya banyak pekerjaan dibantu teman2 kerja, tapi hasil dari teman2 kurang sesuai seperti yang diharapkan, saya coba tidak ngomel2. Tapi berpikir ya mungkin ini salah saya juga kurang memberi arahan yang benar pada teman2 saya. Sebab kalau saya ngomel2 juga gak akan selesai tuh pekerjaan. Yaa nggak ?

June 19, 2007

RAHASIA PERKAWINAN

RAHASIA PERKAWINAN

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak
berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil,
saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan
keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur
yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,
pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk
anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa
pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru
tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat
panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan
cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai,
mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak
lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki
telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang
baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja
ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan,
tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung
jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius
dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat
waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal
sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung
jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam
pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku
kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata
anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami,
melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya,
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara
diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan
aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam
perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar
ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku
bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik
mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia
perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun
mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu,
berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan
membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha
memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku
sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan
tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai
lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.
.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk
membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku,
temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak
melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di
pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung,
kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam
perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata
begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah
dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan
dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang
suamiku, dan teringat akan ayah saya.
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan
dalam perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada
menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi
ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang
menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha
mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah
mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha
mencintai suamiku.

cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya
sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan
perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan
(pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di
sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari
kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai
seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya
carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa
menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang
memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya
mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang
dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling
kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan
baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak
melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara
masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya
cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan
suami, dan meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan
sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,
seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua
mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap
pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga
yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan
memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya
usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak
seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali
dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh
mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas,
demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit
dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada
mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin
penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang
gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan,
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar
kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama
dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur
gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu
bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati
yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan,
kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan
kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya
melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa
bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara
sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai
pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak
kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika
menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah
kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka
menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita
pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak
kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,
perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak
berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil,
saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan
keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur
yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,
pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk
anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa
pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru
tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat
panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan
cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai,
mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak
lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki
telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang
baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja
ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan,
tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung
jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius
dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat
waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal
sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung
jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam
pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku
kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata
anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami,
melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya,
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara
diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan
aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam
perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar
ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku
bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik
mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia
perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun
mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu,
berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan
membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha
memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku
sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan
tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai
lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.
.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk
membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku,
temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak
melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di
pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung,
kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam
perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata
begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah
dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan
dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang
suamiku, dan teringat akan ayah saya.
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan
dalam perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada
menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi
ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang
menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha
mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah
mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha
mencintai suamiku.

cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya
sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan
perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan
(pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di
sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari
kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai
seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya
carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa
menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang
memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya
mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang
dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling
kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan
baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak
melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara
masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya
cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan
suami, dan meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan
sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,
seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua
mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap
pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga
yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan
memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya
usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak
seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali
dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh
mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas,
demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit
dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada
mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin
penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang
gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan,
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar
kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama
dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur
gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu
bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati
yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan,
kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan
kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya
melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa
bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara
sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai
pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak
kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika
menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah
kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka
menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita
pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak
kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,
perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

sumber : milis ika-unpad-milis

June 13, 2007

Uang

Uang

Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu?
Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang
sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia
meminjam uang.

Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian
pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau
sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat
meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman
seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal
baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke
kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy
menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan.
Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari
office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya,
sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni
terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan
harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya
berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa
punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?

Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan,
belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang
sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan
bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling
rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah
terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya
biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak
terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali
kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy
tersebut. “Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji
saya selalu habis setelah tengah bulan.” Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. “Saya dulu juga begitu, mas.
Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa
meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin
tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang
yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang.
Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup,
apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang
lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak”

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung
kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. “Jadi bagaimana
caranya melepaskan diri dari lilitan utang?” tanya Deni.

“Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung
tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji
saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi
wejangan oleh beliau.” katanya.

Nenek saya berkata: “Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke
tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan
mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung,
maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.”

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: “Bagaimana cara membendungnya?” Nenek saya
menjawab tegas:”Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.”

“Tapi nanti kurang nek.”

“Tidak”, kata nenek. “Begini caranya. Begitu terima gaji, segera
lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang.
Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih
dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.” Lalu saya diajak
menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa
untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak
boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan
raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek
karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup
ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.”

“Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu.
Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya
sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh
saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup
sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan
saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak
pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas.
Sampai sekarang.”

Deni bertanya:”Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu
keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.”

“Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin
menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.”

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti
bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup
besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung
memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu
di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah.
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya.
Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan
membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai
kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

Sumber: Uang oleh Lisa Nuryanti
milis Resonansi

June 11, 2007

Kontak Saya

Kontak saya via YM ? di setamat or okitris.

Input Positif

Input positif akan menghasilkan energi positif. Demikian dengan berpikiran positif serta khusnuzon (berbaik sangka) akan memberikan nilai positif bagi diri kita. Sehingga semakin positif lah kita.

Kelola Energi Anda!

Kelola Energi Anda!

“Energilah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu”
(Jim Loehr & Tony Schwartz, penulis “The Power of Full Engagement”)

Saya sering menjumpai orang yang merasa bangga sekaligus memelas
terkait dengan ketergantungannya pada jam kerja yang berlebihan.
Orang ini tampaknya bermasalah dengan waktu, tapi lebih-lebih
sebenarnya mereka punya masalah dengan energinya.

Dari mereka, ada yang berkomentar, “Waduh, kalau tidak ngelembur,
pasti pekerjaan saya tidak bakal beres.” Komentar kain, “Namanya juga
kerja di perusahaan kami, kalau enggak lembur, rasanya belum jadi
karyawan yang sesungguhnya” atau ” Kalau enggak pukul sembilan malam,
belum bisa pulang. Kadang Sabtu dan Minggu juga masuk kantor.”

Memang, tidak ada yang mampu menghentikan waktu. Sementara itu,
banyak orang yang terobsesi dengan waktu sebagai tolok ukur
produktivitas. Seolah-olah orang yang sudah menghabiskan banyak
waktu, dengan sendirinya dinilai sebagai orang produktif.

Inilah salah kaprah yang banyak terjadi dalam konteks ‘bekerja’
sekarang. Orang berlomba-lomba mengelola waktu. Padahal, yang
sebenarnya fundamental adalah mengelola energi untuk bekerja.

Ada kisah menarik. Seorang manajer perempuan terbiasa bekerja hingga
larut malam. Biasanya, dia baru hengkang dari kantor pukul sembilan
atau 10 malam. Bisa jadi, dia adalah orang yang gila kerja
(workalholic). Kebiasaan ini dia bawa sampai ketika menikah.

Suaminya pun sempat melayangkan ultimatum. “Kamu pilih kerja atau
keluargamu? Kalau kamu tetap pulang selarut itu, lebih baik kamu
berhenti bekerja! Toh penghasilan saya bisa lebih dari cukup buat
menghidupi kamu. Saya ijinkan kamu bekerja maksimal sampai pukul enam
sore. Sadarlah, keluarga kamu membutuhkanmu,” keluh suaminya.

Perempuan karir itu pun akhirnya mendengarkan opini suaminya.
Akhirnya, dia mengaku, sejak mendapat ultimatum itu dia berusaha
menata dan mengatur lagi energinya dalam bekerja. Dia merasa tidak
lagi membuang-buang energi untuk suatu yang sia-sia.

Dia bercerita, sudah hampir 1,5 tahun bisa pulang ke rumah on time!
Malah, bisa pulang dan menyelesaikan pekerjaan sebelum pukul enam
sore. Dia pun merasa punya banyak waktu buat keluarga. Mereka pun
bahagia.

Nah, dalam mengelola energi, prinsipnya bukan berapa banyak waktu
yang dihabiskan. Tetapi, berapa banyak energi yang dicurahkan dalam
mengerjakan sesuatu pekerjaan. Jadi, seorang yang bekerja dua jam
saja tetapi dengan energi 100%. Itu sama efektifnya dengan mereka
yang bekerja empat jam, tetapi hanya mempunyai energi 50%.

Artinya, lamanya waktu bekerja tidak selalu berbanding lurus dengan
produktivitas kerja. Waktu lama tidak identik dengan kerja produktif.
Karena itu, tantangannya adalah bagaimana dengan waktu terbatas,
orang mampu mengerjakan banyak hal sesuai target dan dikerjakan
dengan sebaik mungkin. Pada titik inilah, manajemen energi menjadi
penting. Orang mampu bekerja baik jika mempunyai energi yang
berlimpah. Bekerja dengan total energi, itulah kuncinya.

3 Tip penting

Ada tiga tip penting untuk mengelola energi ini. Hal ini
diinspirasikan dari jawaban atas pertanyaan yang banyak muncul dalam
workshop Kecerdasan Emosional yang saya fasilitasi. Yakni, pertama,
menghindari banyaknya kebocoran emosi. Kebocoran emosi terjadi bila
hati kita tinggal separuh saat mengerjakan tugas. Kita bekerja dengan
setengah hati. Inilah yang terjadi saat tubuh beraktivitas, tetapi
pikiran dan hati kita melayang ke tempat lain.

Akibatnya, kita tidak bisa fokus bekerja. Pekerjaan yang dikerjakan
dengan semangat setengah-setengah juga akan menghasilkan buah yang
setengah-setengah juga. Banyak eksekutif sukses karena kemampuan
mereka mengatasi kebocoran emosi ini. Mereka bekerja dengan hati,
pikiran, dan raga yang total ‘hadir’ berada di tempat dia bekerja.
Dalam pepatah Latin disebut Age Quod Agis, bekerja dengan totalitas
penuh!

Kedua, kemampuan untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Sifat menunda-
nunda pekerjaan (procrastination) merupakan kebiasaan yang bisa
menghabiskan banyak energi kerja kita.

Setelah ditunda, justru pekerjaan akan semakin susah diselesaikan.
Pekerjaan lain menyusul dan akhirnya menumpuk. Bahkan, orang yang
cenderung menunda pekerjaan justru akhirnya tidak mengerjakan apa-
apa.

Dalam bukunya Eat the Frog, Brian Trcay menyarankan justru pekerjaan
yang sulit (diibaratkan seperti katak paling besar dan jelek) yang
harus ditangani dulu, sehingga pekerjaan yang sulit menjadi lebih
mudah diselesaikan.

Kita dituntut mampu membuat prioritas pekerjaan. Semakin sulit dan
menyebalkan, sebaiknya ditangani dulu. Sebab kalau tidak, mungkin
akhirnya tidak akan pernah kita sentuh lagi.

Ketiga, tidak menunggu waktu yang tepat untuk memulai. Banyak orang
menunda dan mempersiapkan pekerjaan secara bertele-tele. Mereka
menunggu mood datang. Padahal datangnya mood tidak bisa ditebak.

Tidak ada waktu yang tepat selain memaksa untuk memulainya. Kalaupun
tidak merasa nyaman, mulailah dengan standar rendah dengan mencoba
membuat draft terlebih dahulu. Perlahan-lahan barulah dipoles menjadi
sempurna.

Kita belajar dari seorang penulis. Seorang penulis tidak bisa disebut
penulis jika tidak menulis. Tulisan tidak bakal jadi, jika tidak
mulai menulis. Penulis yang hanya menunggu mood, tidak akan produktif
menghasilkan tulisan. Harus ada disiplin.

Di sini, diperlukan sikap contra agere, melawan kencenderungan
negatif. Kalau cenderung menunda pekerjaan, lawanlah dengan
mengerjakannya dengan total.

Pembaca, alangkah nyamannya kalau dengan waktu yang relatif singkat,
kita mampu menyelesaikan banyak hal dari pekerjaan kita. Bayangkan
seandainya kita mampu mulai mengelola energi kita dengan baik.

Selain pekerjaan kita selesai, kita juga punya waktu untuk keluarga
dan kehidupan pribadi kita. Mengertikah Anda sekarang, mengapa
pengelolaan energi adalah pegelolaan atas kualitas hidup kita? Sekali
lagi, kualitas hidup Anda tergantung dari energi yang Anda kelola!

Sumber: Kelola Energi Anda! oleh Anthony Dio Martin
milis : resonansi@yahoogroups.com

June 7, 2007

Baru sembuh dari sakit

Assalamu’alaikum, ternyata memang rajin menulis apalagi di blog memang susah. Susahnya ternyata mencoba membagi waktu itu. Bukan tidak ada waktu. Nah sekarang saya mau coba nulis lagi. Setelah 2 hari kemarin “jungkeng” alias gak ngapa-ngapain di kantor juga.. Seharian hanya istirahat dan “bengong” gak karuan. Ya habis sakit flue lagi. Seperti biasalah penyakit yang sudah terus-menerus merongrong diri saya. Memang saya akui di saat ini pekerjaan meningkat keras, mulai dari mengolah buku panduan, mahasiswa baru, nanti prapasca ditambah lagi anak2 saya kemarin sakit, juga istri dan pembantu. Bener-bener repot ya. Kecapaian sih iya. Sempat diakunpunktur sama tetangga. Ya lumayan lah mengurangi penyakit. Sekarang sih sudah lumayan. Saya sendiri selama tidak fit masukin berbagai “doping” mulai dari obat asma, pilek, herbal, madu, qurma, vitamin, minuman ion dll. Pokoknya banyak masukan supaya cepet sehat. Sekarang saya harus siap-siap lagi untuk pekerjaan yang sudah banyak menanti.

Wassalam