<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Oki Tris Blog</title>
	<link>http://trisatya.blogsome.com</link>
	<description>Belajar mengungkapkan dalam tulisan</description>
	<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 10:22:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/08/23/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/08/23/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 10:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Artikel Milis</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/08/23/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
	&#8220;De&#8217;&#8230; de&#8217;&#8230;. Selamat
Ulang Tahun&#8230;&#8221; bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.
&#8220;Hmm&#8230;&#8221; aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur
kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar
dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
	Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun.
Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima
bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</p>
	<p>&#8220;De&#8217;&#8230; de&#8217;&#8230;. Selamat<br />
Ulang Tahun&#8230;&#8221; bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku.<br />
&#8220;Hmm&#8230;&#8221; aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur<br />
kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar<br />
dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.</p>
	<p>Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun.<br />
Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima<br />
bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada<br />
kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku<br />
semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti<br />
biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi,<br />
terakhir bibirku. Setelah itu<br />
diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku.<br />
Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku<br />
seperti putri hari ini cuma memandangku.</p>
	<p>Alat shalat kubereskan dan aku kembali<br />
berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan<br />
mengucapkan. Happy Birthday to Me&#8230; Happy Birthday to Me&#8230;. Bisik hatiku<br />
perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku.<br />
Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari<br />
ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana<br />
dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat<br />
aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari<br />
ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala<br />
kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan<br />
aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.</p>
	<p>&#8220;De&#8230;. Ade kenapa?&#8221; tanya suamiku<br />
dengan nada bingung dan khawatir.</p>
	<p>Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu<br />
membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah<br />
bungkusan warna merah jambu. Ada<br />
tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan<br />
disodorkannya kepadaku.</p>
	<p>&#8220;Selamat ulang tahun ya De&#8217;&#8230;&#8221;<br />
bisiknya lirih. &#8220;Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado<br />
ini&#8230; tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.</p>
	<p>Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari<br />
mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka<br />
perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.</p>
	<p>&#8220;Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini.<br />
Nnnng&#8230; Nggak bagus ya de?&#8221; ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke<br />
lantai.</p>
	<p>Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan<br />
bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar<br />
Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang<br />
diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba<br />
aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.</p>
	<p>&#8220;Jelek ya de&#8217;? Maaf ya de&#8217;&#8230; aku nggak<br />
bisa ngasih apa-apa&#8230;. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya<br />
de&#8217;&#8230;&#8221; desahnya.</p>
	<p>Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan<br />
siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan<br />
tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku.<br />
Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi&#8230; mengapa sepicik itu<br />
pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih<br />
aku pertanyakan.</p>
	<p>&#8220;A&#8217; lihat aku&#8230;,&#8221; pintaku padanya.<br />
Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan<br />
menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya<br />
menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih<br />
dan ketulusan itu. &#8220;Tahu nggak&#8230; kamu ngasih aku banyaaaak banget,&#8221;<br />
bisikku di antara isakan. &#8220;Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama<br />
istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.<br />
Kamu ngasih aku dede&#8217;,&#8221; senyumku sambil mengelus perutku. &#8220;Kamu<br />
ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama&#8230;.&#8221;<br />
bisikku dalam cekat.</p>
	<p>Terbayang wajah mama mertuaku yang<br />
perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. &#8220;Kamu yang<br />
selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu<br />
telepon setiap siang,&#8221; isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian<br />
tangisnya semakin kencang di pelukanku.</p>
	<p>Rabbana&#8230; mungkin Engkau belum memberikan<br />
kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah<br />
aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan<br />
sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke,<br />
fasilitas-fasilitas . Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa<br />
aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan<br />
nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan<br />
untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru<br />
menikah&#8230; Aku ingin mencintaimu dengan<br />
sederhana&#8230;</p>
	<p>(Sumber : milis di Yahoogroups).
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/08/23/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Aa Gym</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/21/terima-kasih-aa-gym/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/21/terima-kasih-aa-gym/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 00:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Perenungan</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/21/terima-kasih-aa-gym/</guid>
		<description><![CDATA[	Setiap kali ada masalah, setiap kali ada sesutu yang kurang enak di jalan atau dimanapun saya selalu terngiang kata-kata Aa Gym yang intinya &#8220;Kalau dengan ngomel, gerutu, marah2, ngambek itu akan membuat selesai masalah maka lakukan hal itu, tapi kalau tidak jangan, karena akan sia-saia dan membuang energi kita&#8221; . Nah kata-kata itu selalu terngiang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Setiap kali ada masalah, setiap kali ada sesutu yang kurang enak di jalan atau dimanapun saya selalu terngiang kata-kata Aa Gym yang intinya &#8220;Kalau dengan ngomel, gerutu, marah2, ngambek itu akan membuat selesai masalah maka lakukan hal itu, tapi kalau tidak jangan, karena akan sia-saia dan membuang energi kita&#8221; . Nah kata-kata itu selalu terngiang dalam benak saya. Jadi ketika saya salah pilih jalan, lalu kena macet, saya hadapi saja dengan senang, toh kalau kita kesel juga tetep macet. Bagitulah juga dalam pekerjaan, ketika saya banyak pekerjaan dibantu teman2 kerja, tapi hasil dari teman2 kurang sesuai seperti yang diharapkan, saya coba tidak ngomel2. Tapi berpikir ya mungkin ini salah saya juga kurang memberi arahan yang benar pada teman2 saya. Sebab kalau saya ngomel2 juga gak akan selesai tuh pekerjaan. Yaa nggak ?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/21/terima-kasih-aa-gym/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>RAHASIA PERKAWINAN</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/19/rahasia-perkawinan/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/19/rahasia-perkawinan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 10:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Artikel Milis</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/19/rahasia-perkawinan/</guid>
		<description><![CDATA[	RAHASIA PERKAWINAN
	Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak
berakhir bahagia
	Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil,
saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan
keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur
yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,
pagi hari hanya bisa makan bubur.
	Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk
anak-anak, karena anak-anak sedang dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>RAHASIA PERKAWINAN</p>
	<p>Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak<br />
berakhir bahagia</p>
	<p>Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil,<br />
saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan<br />
keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur<br />
yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,<br />
pagi hari hanya bisa makan bubur.</p>
	<p>Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk<br />
anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa<br />
pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru<br />
tidak akan lapar seharian di sekolah.</p>
	<p>Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat<br />
panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan<br />
cermin, tidak ada noda sedikikt pun.</p>
	<p>Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai,<br />
mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak<br />
lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,<br />
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki<br />
telanjang. </p>
	<p>Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.</p>
	<p>Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang<br />
baik. </p>
	<p>Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja<br />
ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan,<br />
tidak memahaminya.</p>
	<p>Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung<br />
jawab.</p>
	<p>Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius<br />
dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat<br />
waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal<br />
sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat<br />
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung<br />
jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam<br />
pelajaran.   </p>
	<p>Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku<br />
kuno.</p>
	<p>Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata<br />
anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami,<br />
melindungi kami dan mendidik kami. </p>
	<p>Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang<br />
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya,<br />
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara<br />
diam diam di sudut halaman. </p>
	<p>Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan<br />
aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam<br />
perkawinan.  </p>
	<p>Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar<br />
ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,<br />
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka<br />
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.  </p>
	<p>Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,<br />
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,<br />
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku<br />
bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik<br />
mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?</p>
	<p>Pengorbanan yang dianggap benar. </p>
	<p>Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia<br />
perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun<br />
mengetahui akan jawaban ini.</p>
	<p>Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu,<br />
berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan<br />
membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha<br />
memelihara perkawinan sendiri. </p>
	<p>Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku<br />
sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.</p>
	<p>Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan<br />
tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai<br />
lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.</p>
	<p>Namun, rasanya,  kami berdua tetap saja tidak bahagia.<br />
.</p>
	<p>Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk<br />
membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku,<br />
temani aku sejenak mendengar alunan musik!</p>
	<p>Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak<br />
melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di<br />
pel ?</p>
	<p>Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung,<br />
kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam<br />
perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata<br />
begitu sama ayah.  </p>
	<p>Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah<br />
dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan<br />
dalam perkwinan mereka.</p>
	<p>Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.</p>
	<p>Yang kamu inginkan ?</p>
	<p>Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang<br />
suamiku, dan teringat akan ayah saya.<br />
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan<br />
dalam perkawinannya,</p>
	<p>Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada<br />
menemaninya. </p>
	<p>Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah<br />
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi<br />
ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang<br />
menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha<br />
mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah<br />
mengerjakan urusan rumah tangga. </p>
	<p>Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha<br />
mencintai suamiku. </p>
	<p>cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya<br />
sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,<br />
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan<br />
perkawinan yang bahagia. </p>
	<p>Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan<br />
(pilihan) yang sama.</p>
	<p>Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di<br />
sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari<br />
kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai<br />
seperti menatapi nasib ibu.   </p>
	<p>Saya bertanya pada suamiku :  apa yang kau butuhkan ?</p>
	<p>Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,<br />
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya<br />
carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa<br />
menemaniku! ujar suamiku.</p>
	<p>Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang<br />
memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya<br />
mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang<br />
dibutuhkannya. </p>
	<p>Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling<br />
kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. </p>
	<p>Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,<br />
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.<br />
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan<br />
baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak<br />
melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara<br />
masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya<br />
cara pihak kedua.</p>
	<p>Jalan kebahagiaan</p>
	<p>Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan<br />
suami, dan meletakkanya di atas meja buku,<br />
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan<br />
sebuah daftar kebutuhanku.</p>
	<p>Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,<br />
seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua<br />
mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap<br />
pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.</p>
	<p>Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga<br />
yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan<br />
memberi komentar.  </p>
	<p>Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya<br />
usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak<br />
seperti orang bodoh.</p>
	<p>Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.</p>
	<p>Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali<br />
dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh<br />
mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas,<br />
demikian juga ketika salah jalan.</p>
	<p>Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit<br />
dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada<br />
mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,<br />
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin<br />
penuh daya hidup.   </p>
	<p>Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang<br />
gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan,<br />
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar<br />
kota.   </p>
	<p>Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama<br />
dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu<br />
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur<br />
gejolak hati masing-masing.</p>
	<p>Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga<br />
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu<br />
bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,<br />
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati<br />
yang saling mencintai bertahun-tahun silam.  </p>
	<p>Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan,<br />
kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan<br />
kebahagiaan lain dalam perkawinan.  Keduanya akhirnya<br />
melangkah ke jalan bahagia.</p>
	<p>Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa<br />
bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara<br />
sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai<br />
pasangannya dengan cara pihak kedua.</p>
	<p>Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak<br />
kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika<br />
menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah<br />
kecewa dan hancur. </p>
	<p>Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka<br />
menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki<br />
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita<br />
pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak<br />
kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,<br />
perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.</p>
	<p>Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak<br />
berakhir bahagia</p>
	<p>Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil,<br />
saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan<br />
keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur<br />
yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik,<br />
pagi hari hanya bisa makan bubur.</p>
	<p>Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk<br />
anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa<br />
pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru<br />
tidak akan lapar seharian di sekolah.</p>
	<p>Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat<br />
panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan<br />
cermin, tidak ada noda sedikikt pun.</p>
	<p>Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai,<br />
mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak<br />
lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain,<br />
tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki<br />
telanjang. </p>
	<p>Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.</p>
	<p>Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang<br />
baik. </p>
	<p>Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja<br />
ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan,<br />
tidak memahaminya.</p>
	<p>Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung<br />
jawab.</p>
	<p>Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius<br />
dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat<br />
waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal<br />
sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat<br />
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung<br />
jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam<br />
pelajaran.   </p>
	<p>Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku<br />
kuno.</p>
	<p>Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata<br />
anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami,<br />
melindungi kami dan mendidik kami. </p>
	<p>Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang<br />
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya,<br />
kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara<br />
diam diam di sudut halaman. </p>
	<p>Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan<br />
aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam<br />
perkawinan.  </p>
	<p>Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar<br />
ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu,<br />
sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka<br />
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.  </p>
	<p>Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia,<br />
kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan,<br />
sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku<br />
bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik<br />
mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?</p>
	<p>Pengorbanan yang dianggap benar. </p>
	<p>Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia<br />
perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun<br />
mengetahui akan jawaban ini.</p>
	<p>Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu,<br />
berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan<br />
membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha<br />
memelihara perkawinan sendiri. </p>
	<p>Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku<br />
sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.</p>
	<p>Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan<br />
tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai<br />
lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.</p>
	<p>Namun, rasanya,  kami berdua tetap saja tidak bahagia.<br />
.</p>
	<p>Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk<br />
membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku,<br />
temani aku sejenak mendengar alunan musik!</p>
	<p>Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak<br />
melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di<br />
pel ?</p>
	<p>Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung,<br />
kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam<br />
perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata<br />
begitu sama ayah.  </p>
	<p>Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah<br />
dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan<br />
dalam perkwinan mereka.</p>
	<p>Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.</p>
	<p>Yang kamu inginkan ?</p>
	<p>Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang<br />
suamiku, dan teringat akan ayah saya.<br />
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan<br />
dalam perkawinannya,</p>
	<p>Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada<br />
menemaninya. </p>
	<p>Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah<br />
cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi<br />
ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang<br />
menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha<br />
mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah<br />
mengerjakan urusan rumah tangga. </p>
	<p>Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha<br />
mencintai suamiku. </p>
	<p>cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya<br />
sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita,<br />
dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan<br />
perkawinan yang bahagia. </p>
	<p>Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan<br />
(pilihan) yang sama.</p>
	<p>Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di<br />
sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari<br />
kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai<br />
seperti menatapi nasib ibu.   </p>
	<p>Saya bertanya pada suamiku :  apa yang kau butuhkan ?</p>
	<p>Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik,<br />
rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya<br />
carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa<br />
menemaniku! ujar suamiku.</p>
	<p>Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang<br />
memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya<br />
mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang<br />
dibutuhkannya. </p>
	<p>Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling<br />
kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku. </p>
	<p>Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan,<br />
hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.<br />
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan<br />
baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak<br />
melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara<br />
masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya<br />
cara pihak kedua.</p>
	<p>Jalan kebahagiaan</p>
	<p>Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan<br />
suami, dan meletakkanya di atas meja buku,<br />
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan<br />
sebuah daftar kebutuhanku.</p>
	<p>Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas,<br />
seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua<br />
mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap<br />
pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.</p>
	<p>Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga<br />
yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan<br />
memberi komentar.  </p>
	<p>Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya<br />
usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak<br />
seperti orang bodoh.</p>
	<p>Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.</p>
	<p>Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali<br />
dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh<br />
mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas,<br />
demikian juga ketika salah jalan.</p>
	<p>Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit<br />
dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada<br />
mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini,<br />
perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin<br />
penuh daya hidup.   </p>
	<p>Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang<br />
gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan,<br />
dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar<br />
kota.   </p>
	<p>Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama<br />
dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu<br />
pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur<br />
gejolak hati masing-masing.</p>
	<p>Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga<br />
dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu<br />
bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan,<br />
kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati<br />
yang saling mencintai bertahun-tahun silam.  </p>
	<p>Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan,<br />
kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan<br />
kebahagiaan lain dalam perkawinan.  Keduanya akhirnya<br />
melangkah ke jalan bahagia.</p>
	<p>Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa<br />
bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara<br />
sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai<br />
pasangannya dengan cara pihak kedua.</p>
	<p>Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak<br />
kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika<br />
menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah<br />
kecewa dan hancur. </p>
	<p>Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka<br />
menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki<br />
sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita<br />
pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak<br />
kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,<br />
perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.</p>
	<p>sumber : milis ika-unpad-milis
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/19/rahasia-perkawinan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Uang</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/13/uang/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/13/uang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2007 01:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Artikel Milis</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/13/uang/</guid>
		<description><![CDATA[	Uang
	Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu?
Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang
sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia
meminjam uang.
	Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian
pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau
sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat
meminjamkan uangnya.
	Akhirnya Deni mendapatkan juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Uang</p>
	<p>Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu?<br />
Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang<br />
sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia<br />
meminjam uang.</p>
	<p>Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian<br />
pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau<br />
sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat<br />
meminjamkan uangnya.</p>
	<p>Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman<br />
seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal<br />
baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke<br />
kantor dan untuk biaya makan.</p>
	<p>Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy<br />
menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan.<br />
Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari<br />
office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya,<br />
sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.</p>
	<p>Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni<br />
terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan<br />
harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya<br />
berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa<br />
punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?</p>
	<p>Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan,<br />
belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang<br />
sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?</p>
	<p>Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan<br />
bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling<br />
rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah<br />
terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya<br />
biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak<br />
terkesan menjilat.</p>
	<p>Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali<br />
kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy<br />
tersebut. &#8220;Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji<br />
saya selalu habis setelah tengah bulan.&#8221; Deni membuka percakapan.</p>
	<p>Office boy tersebut mulai bercerita. &#8220;Saya dulu juga begitu, mas.<br />
Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa<br />
meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin<br />
tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang<br />
yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang.<br />
Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup,<br />
apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang<br />
lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak&#8221;</p>
	<p>Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung<br />
kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. &#8220;Jadi bagaimana<br />
caranya melepaskan diri dari lilitan utang?&#8221; tanya Deni.</p>
	<p>&#8220;Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung<br />
tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji<br />
saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi<br />
wejangan oleh beliau.&#8221; katanya.</p>
	<p>Nenek saya berkata: &#8220;Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke<br />
tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan<br />
mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung,<br />
maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.&#8221;</p>
	<p>Hidup prihatin</p>
	<p>Waktu itu saya bertanya: &#8220;Bagaimana cara membendungnya?&#8221; Nenek saya<br />
menjawab tegas:&#8221;Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Tapi nanti kurang nek.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Tidak&#8221;, kata nenek. &#8220;Begini caranya. Begitu terima gaji, segera<br />
lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang.<br />
Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih<br />
dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.&#8221; Lalu saya diajak<br />
menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa<br />
untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.</p>
	<p>Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak<br />
boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan<br />
raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek<br />
karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup<br />
ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu.<br />
Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya<br />
sisihkan untuk ditabung.</p>
	<p>Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh<br />
saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup<br />
sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan<br />
saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak<br />
pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas.<br />
Sampai sekarang.&#8221;</p>
	<p>Deni bertanya:&#8221;Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu<br />
keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin<br />
menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.&#8221;</p>
	<p>Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti<br />
bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup<br />
besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung<br />
memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu<br />
di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah.<br />
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.</p>
	<p>Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya.<br />
Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan<br />
membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai<br />
kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!</p>
	<p>Sumber: Uang oleh Lisa Nuryanti<br />
milis Resonansi
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/13/uang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kontak Saya</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kontak-saya/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kontak-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 09:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Info dan Kontak</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kontak-saya/</guid>
		<description><![CDATA[	Kontak saya via YM ? di setamat or okitris.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kontak saya via YM ? di setamat or okitris.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kontak-saya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Input Positif</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/input-positif/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/input-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 09:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Perenungan</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/input-positif/</guid>
		<description><![CDATA[	Input positif akan menghasilkan energi positif. Demikian dengan berpikiran positif serta  khusnuzon (berbaik sangka) akan memberikan nilai positif bagi diri kita. Sehingga semakin positif lah kita.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Input positif akan menghasilkan energi positif. Demikian dengan berpikiran positif serta  khusnuzon (berbaik sangka) akan memberikan nilai positif bagi diri kita. Sehingga semakin positif lah kita.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/input-positif/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kelola Energi Anda!</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kelola-energi-anda/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kelola-energi-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 04:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Artikel Milis</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kelola-energi-anda/</guid>
		<description><![CDATA[	Kelola Energi Anda!
	&#8220;Energilah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu&#8221;
(Jim Loehr &#038; Tony Schwartz, penulis &#8220;The Power of Full Engagement&#8221;)
	Saya sering menjumpai orang yang merasa bangga sekaligus memelas
terkait dengan ketergantungannya pada jam kerja yang berlebihan.
Orang ini tampaknya bermasalah dengan waktu, tapi lebih-lebih
sebenarnya mereka punya masalah dengan energinya.
	Dari mereka, ada yang berkomentar, &#8220;Waduh, kalau tidak ngelembur,
pasti pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kelola Energi Anda!</p>
	<p>&#8220;Energilah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu&#8221;<br />
(Jim Loehr &#038; Tony Schwartz, penulis &#8220;The Power of Full Engagement&#8221;)</p>
	<p>Saya sering menjumpai orang yang merasa bangga sekaligus memelas<br />
terkait dengan ketergantungannya pada jam kerja yang berlebihan.<br />
Orang ini tampaknya bermasalah dengan waktu, tapi lebih-lebih<br />
sebenarnya mereka punya masalah dengan energinya.</p>
	<p>Dari mereka, ada yang berkomentar, &#8220;Waduh, kalau tidak ngelembur,<br />
pasti pekerjaan saya tidak bakal beres.&#8221; Komentar kain, &#8220;Namanya juga<br />
kerja di perusahaan kami, kalau enggak lembur, rasanya belum jadi<br />
karyawan yang sesungguhnya&#8221; atau &#8221; Kalau enggak pukul sembilan malam,<br />
belum bisa pulang. Kadang Sabtu dan Minggu juga masuk kantor.&#8221;</p>
	<p>Memang, tidak ada yang mampu menghentikan waktu. Sementara itu,<br />
banyak orang yang terobsesi dengan waktu sebagai tolok ukur<br />
produktivitas. Seolah-olah orang yang sudah menghabiskan banyak<br />
waktu, dengan sendirinya dinilai sebagai orang produktif.</p>
	<p>Inilah salah kaprah yang banyak terjadi dalam konteks &#8216;bekerja&#8217;<br />
sekarang. Orang berlomba-lomba mengelola waktu. Padahal, yang<br />
sebenarnya fundamental adalah mengelola energi untuk bekerja.</p>
	<p>Ada kisah menarik. Seorang manajer perempuan terbiasa bekerja hingga<br />
larut malam. Biasanya, dia baru hengkang dari kantor pukul sembilan<br />
atau 10 malam. Bisa jadi, dia adalah orang yang gila kerja<br />
(workalholic). Kebiasaan ini dia bawa sampai ketika menikah.</p>
	<p>Suaminya pun sempat melayangkan ultimatum. &#8220;Kamu pilih kerja atau<br />
keluargamu? Kalau kamu tetap pulang selarut itu, lebih baik kamu<br />
berhenti bekerja! Toh penghasilan saya bisa lebih dari cukup buat<br />
menghidupi kamu. Saya ijinkan kamu bekerja maksimal sampai pukul enam<br />
sore. Sadarlah, keluarga kamu membutuhkanmu,&#8221; keluh suaminya.</p>
	<p>Perempuan karir itu pun akhirnya mendengarkan opini suaminya.<br />
Akhirnya, dia mengaku, sejak mendapat ultimatum itu dia berusaha<br />
menata dan mengatur lagi energinya dalam bekerja. Dia merasa tidak<br />
lagi membuang-buang energi untuk suatu yang sia-sia.</p>
	<p>Dia bercerita, sudah hampir 1,5 tahun bisa pulang ke rumah on time!<br />
Malah, bisa pulang dan menyelesaikan pekerjaan sebelum pukul enam<br />
sore. Dia pun merasa punya banyak waktu buat keluarga. Mereka pun<br />
bahagia.</p>
	<p>Nah, dalam mengelola energi, prinsipnya bukan berapa banyak waktu<br />
yang dihabiskan. Tetapi, berapa banyak energi yang dicurahkan dalam<br />
mengerjakan sesuatu pekerjaan. Jadi, seorang yang bekerja dua jam<br />
saja tetapi dengan energi 100%. Itu sama efektifnya dengan mereka<br />
yang bekerja empat jam, tetapi hanya mempunyai energi 50%.</p>
	<p>Artinya, lamanya waktu bekerja tidak selalu berbanding lurus dengan<br />
produktivitas kerja. Waktu lama tidak identik dengan kerja produktif.<br />
Karena itu, tantangannya adalah bagaimana dengan waktu terbatas,<br />
orang mampu mengerjakan banyak hal sesuai target dan dikerjakan<br />
dengan sebaik mungkin. Pada titik inilah, manajemen energi menjadi<br />
penting. Orang mampu bekerja baik jika mempunyai energi yang<br />
berlimpah. Bekerja dengan total energi, itulah kuncinya.</p>
	<p>3 Tip penting</p>
	<p>Ada tiga tip penting untuk mengelola energi ini. Hal ini<br />
diinspirasikan dari jawaban atas pertanyaan yang banyak muncul dalam<br />
workshop Kecerdasan Emosional yang saya fasilitasi. Yakni, pertama,<br />
menghindari banyaknya kebocoran emosi. Kebocoran emosi terjadi bila<br />
hati kita tinggal separuh saat mengerjakan tugas. Kita bekerja dengan<br />
setengah hati. Inilah yang terjadi saat tubuh beraktivitas, tetapi<br />
pikiran dan hati kita melayang ke tempat lain.</p>
	<p>Akibatnya, kita tidak bisa fokus bekerja. Pekerjaan yang dikerjakan<br />
dengan semangat setengah-setengah juga akan menghasilkan buah yang<br />
setengah-setengah juga. Banyak eksekutif sukses karena kemampuan<br />
mereka mengatasi kebocoran emosi ini. Mereka bekerja dengan hati,<br />
pikiran, dan raga yang total &#8216;hadir&#8217; berada di tempat dia bekerja.<br />
Dalam pepatah Latin disebut Age Quod Agis, bekerja dengan totalitas<br />
penuh!</p>
	<p>Kedua, kemampuan untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Sifat menunda-<br />
nunda pekerjaan (procrastination) merupakan kebiasaan yang bisa<br />
menghabiskan banyak energi kerja kita.</p>
	<p>Setelah ditunda, justru pekerjaan akan semakin susah diselesaikan.<br />
Pekerjaan lain menyusul dan akhirnya menumpuk. Bahkan, orang yang<br />
cenderung menunda pekerjaan justru akhirnya tidak mengerjakan apa-<br />
apa.</p>
	<p>Dalam bukunya Eat the Frog, Brian Trcay menyarankan justru pekerjaan<br />
yang sulit (diibaratkan seperti katak paling besar dan jelek) yang<br />
harus ditangani dulu, sehingga pekerjaan yang sulit menjadi lebih<br />
mudah diselesaikan.</p>
	<p>Kita dituntut mampu membuat prioritas pekerjaan. Semakin sulit dan<br />
menyebalkan, sebaiknya ditangani dulu. Sebab kalau tidak, mungkin<br />
akhirnya tidak akan pernah kita sentuh lagi.</p>
	<p>Ketiga, tidak menunggu waktu yang tepat untuk memulai. Banyak orang<br />
menunda dan mempersiapkan pekerjaan secara bertele-tele. Mereka<br />
menunggu mood datang. Padahal datangnya mood tidak bisa ditebak.</p>
	<p>Tidak ada waktu yang tepat selain memaksa untuk memulainya. Kalaupun<br />
tidak merasa nyaman, mulailah dengan standar rendah dengan mencoba<br />
membuat draft terlebih dahulu. Perlahan-lahan barulah dipoles menjadi<br />
sempurna.</p>
	<p>Kita belajar dari seorang penulis. Seorang penulis tidak bisa disebut<br />
penulis jika tidak menulis. Tulisan tidak bakal jadi, jika tidak<br />
mulai menulis. Penulis yang hanya menunggu mood, tidak akan produktif<br />
menghasilkan tulisan. Harus ada disiplin.</p>
	<p>Di sini, diperlukan sikap contra agere, melawan kencenderungan<br />
negatif. Kalau cenderung menunda pekerjaan, lawanlah dengan<br />
mengerjakannya dengan total.</p>
	<p>Pembaca, alangkah nyamannya kalau dengan waktu yang relatif singkat,<br />
kita mampu menyelesaikan banyak hal dari pekerjaan kita. Bayangkan<br />
seandainya kita mampu mulai mengelola energi kita dengan baik.</p>
	<p>Selain pekerjaan kita selesai, kita juga punya waktu untuk keluarga<br />
dan kehidupan pribadi kita. Mengertikah Anda sekarang, mengapa<br />
pengelolaan energi adalah pegelolaan atas kualitas hidup kita? Sekali<br />
lagi, kualitas hidup Anda tergantung dari energi yang Anda kelola!</p>
	<p>Sumber: Kelola Energi Anda! oleh Anthony Dio Martin<br />
milis : resonansi@yahoogroups.com
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/11/kelola-energi-anda/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Baru sembuh dari sakit</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/07/baru-sembuh-dari-sakit/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/07/baru-sembuh-dari-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 01:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Pengalaman</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/07/baru-sembuh-dari-sakit/</guid>
		<description><![CDATA[	Assalamu&#8217;alaikum, ternyata memang rajin menulis apalagi di blog memang susah. Susahnya ternyata mencoba membagi waktu itu. Bukan tidak ada waktu. Nah sekarang saya mau coba nulis lagi. Setelah 2 hari kemarin &#8220;jungkeng&#8221; alias gak ngapa-ngapain di kantor juga.. Seharian hanya istirahat dan &#8220;bengong&#8221; gak karuan. Ya habis sakit flue lagi. Seperti biasalah penyakit yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum, ternyata memang rajin menulis apalagi di blog memang susah. Susahnya ternyata mencoba membagi waktu itu. Bukan tidak ada waktu. Nah sekarang saya mau coba nulis lagi. Setelah 2 hari kemarin &#8220;jungkeng&#8221; alias gak ngapa-ngapain di kantor juga.. Seharian hanya istirahat dan &#8220;bengong&#8221; gak karuan. Ya habis sakit flue lagi. Seperti biasalah penyakit yang sudah terus-menerus merongrong diri saya. Memang saya akui di saat ini pekerjaan meningkat keras, mulai dari mengolah buku panduan, mahasiswa baru, nanti prapasca ditambah lagi anak2 saya kemarin sakit, juga istri dan pembantu. Bener-bener repot ya.  Kecapaian sih iya. Sempat diakunpunktur sama tetangga. Ya lumayan lah mengurangi penyakit. Sekarang sih sudah lumayan. Saya sendiri selama tidak fit masukin berbagai &#8220;doping&#8221; mulai dari obat asma, pilek, herbal, madu, qurma, vitamin, minuman ion dll. Pokoknya banyak masukan supaya cepet sehat. Sekarang saya harus siap-siap lagi untuk pekerjaan yang sudah banyak menanti. </p>
	<p>Wassalam
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/06/07/baru-sembuh-dari-sakit/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mulai lagi&#8230;.</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2007/04/02/mulai-lagi/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2007/04/02/mulai-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 10:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Pengalaman</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2007/04/02/mulai-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[	Sudah lama nggak nulis lagi euy ! Habis kembali bukannya kagak ada waktu, tapi ya itu susah memanage waktu supaya bisa nulis. Padahal dulu udah komit minimal 1 minggu sekali nulis, tapi hasilnya mana ?? Nihil. Ya begitulah.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sudah lama nggak nulis lagi euy ! Habis kembali bukannya kagak ada waktu, tapi ya itu susah memanage waktu supaya bisa nulis. Padahal dulu udah komit minimal 1 minggu sekali nulis, tapi hasilnya mana ?? Nihil. Ya begitulah.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2007/04/02/mulai-lagi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tertawaan Cinta</title>
		<link>http://trisatya.blogsome.com/2006/10/05/tertawaan-cinta/</link>
		<comments>http://trisatya.blogsome.com/2006/10/05/tertawaan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Oct 2006 00:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trisatya</dc:creator>
		
	<category>Pengalaman</category>
		<guid>http://trisatya.blogsome.com/2006/10/05/tertawaan-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[	Tertawaan Cinta
     Oleh Mohammad Fauzil Adhim
	Ya Tuhan&#8230;.
Jika cinta adalah ketertawanan
Tawanlah aku dengan cinta kepada-Mu
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku
	Ya Tuhan&#8230;..
Jika rindu adalah rasa sakit
Yang tak menemukan muaranya
Penuhiah rasa sakitku
Dengan rindu kepada-Mu
Dan jadikanlah kematianku
Sebagai muara
Pertemuan dengan-Mu
	Ya Tuhan&#8230;.
Hatiku hanya cukup untuk satu cinta
Jika aku tak dapat mengisinya dengan cinta kepada-Mu
Kemanakah wajahku hendak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Tertawaan Cinta<br />
     Oleh <em>Mohammad Fauzil Adhim</em></p>
	<p>Ya Tuhan&#8230;.<br />
Jika cinta adalah ketertawanan<br />
Tawanlah aku dengan cinta kepada-Mu<br />
Agar tak ada lagi yang dapat menawanku</p>
	<p>Ya Tuhan&#8230;..<br />
Jika rindu adalah rasa sakit<br />
Yang tak menemukan muaranya<br />
Penuhiah rasa sakitku<br />
Dengan rindu kepada-Mu<br />
Dan jadikanlah kematianku<br />
Sebagai muara<br />
Pertemuan dengan-Mu</p>
	<p>Ya Tuhan&#8230;.<br />
Hatiku hanya cukup untuk satu cinta<br />
Jika aku tak dapat mengisinya dengan cinta kepada-Mu<br />
Kemanakah wajahku hendak kusembunyikan dari-Mu
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://trisatya.blogsome.com/2006/10/05/tertawaan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>

